Masih Mau Jadi Ibu ???

February 19th, 2009 by diarisy

“Okikunatara okasan ni naritai” artinya, kalau besar inginmenjadiibu-jawaban anak-anak Jepang yang barangkali belum pernah ditemui dimiliki anak perempuan Indonesia bila datang pertanyaan mengenai cita-citanya. Termasuk saya, anak perempuan Indonesia yang tidak pernah sekalipun menuliskan profesi terhormat ini dalam kolom cita-cita. Namun, saat tidak ada lagi item cita-cita pada lembar biodata atau curricuuluum vitae yang harus diisi beberapa tahuun terakhir , saya sangat terobsesi pada profesi ini. Terutama setelah menikah, sepertinya Allah semakin dekatkan dengan cita-cita menjadi ibu.

Bayangkan, betapa Allah memuliakan profesi ini ! Melalui Rasul-NYA, dikatakan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Pun jawaban Rasulullah ketika ditanya seorang pemuda tentang siapa yang harus dimuliakan : Ibumu, Ibumu, Ibumu !

Ah, betapa saya sangat merindukan sebuah mulut mungil kelak memanggil dengan sebutan ibu, ummi, bunda atau panggilan lainnya.

Cita-cita besar itu sempat terbentur dengan kondisi saya yang seorang pekerja, yang terikat jam kerja di luar rumah. Seperti yang ditulis Azimah Rahayu dalam Pagi Ini Aku Cantik Sekali : “Bagaimana mungkin saya mendidik anak-anak secara optimal agar mereka menjadi generasi robbani jika separo waktu yang saya miliki saya habiskan di kantor dan perjalanan ? Berapa persen waktu dan perhatian yang bisa saya berikan pada mereka jika saya telah kelelahan lahir dan batin?”

Ribet, ruwet, dan pasti repot. Tiga R yang mengganggu pikiran saya.

Pagi hari di ruangan kerja saya yang mayoritas penghuninya para ibu, adalah saatnya berbagi cerita tentang prestasi-prestasi membanggakan mereka pagi ini. Prestasi membanggakan itu antara lain : sudah bersih-bersih rumah, sudah mencuci dan menyeterika pakaian, menyiapkan sarapan anak dan suami, menu masakan yang mereka masak untuk kelarga hari ini. Dan kebanyakan, lebih dari satu pekerjaan sudah bisa mereka bereskan di pagi hari sebelum berangkat ke kantor !

Kembali lagi 3 R yang terbayang di benak saya. ‘Pasti ribet, ruwet dan repot ya, Mbak ! Capek juga ya ?’.

Mbak-mbak rekan kerja saya yang ibu-ibu itu menjawab ‘Ya mau gimana lagi, jadi ibu ya begini resikonya, repot dan sibuk. Belumlagi ditambahi urusan kantor. Ya, dinikmati aja !’.

Senikmat-nikmatnya mbak-mbak saya menikmati konsekuensi menjadi ibu yang bekerja itu, terkadang saya dapati juga mereka terlihat lelah. Capek Dek, habis nemenin anakku belajar sampai tengah malam. Belum juga kebingungan mereka saat anak-anak ujian dan di sisi lain tugas kantor menumpuk.

Trus, gimana dong….????!!!!

Intinya Dek, adalah pengorbanan. Pengorbanan segalanya, waktu, tenaga, pikiran, materi dan banyak hal lainnya. Akan lebih banyak yang harus kita korbankan untuk anak-anak dan keluarga daripada untuk diri sendiri. Itulah bedanya wanita sebelum menjadi ibu dengan setelah menjadi ibu. Kalau sebelum jadi ibu, sehari bisa tidur 8 jam, setelah jadi ibu, bisa berkurang jam tidur kita. Pengorbanan sebagai ibu tidak akan terasa sebagai pengorbanan, yang terkesan berat karena memang itulah karakteristik dari seorang yang dinamai ibu, ia identik dengan pengorbanan yang tulus.

Pengorbanan. Satu kata itu rasa cukup mewakili hal penting dan berat yang harus dipersiapkan, yang harus dilatih dan dibiasakn sebelum kata ‘ibu’ benar-benar Allah ijinkan melekat pada diri saya. Dan sepertinya, menjadi ibu bukanlah hal yang mudah. Tapi, Ya Allah, boleh kan aku mencobanya ??!! Bantulah aku juga ya, Ya Robbi !!!

Bulan Besar : Musim Nikah………!!!

December 30th, 2007 by diarisy

Kalo ditanya desember ini bulan apa..ya jawabannya musim nikah ! Mulai dari awal bulan sampe akhir bulan, bahkan sampe Januari. Alhamdulillah, banyak yang menggenapkan setengah dien di bulan ini…They are…:

Afid 16 Des, with Mr.Hunaifi..may Allah give u the best..smg barakah itu tak pernah berhenti mengalir..

Yani, 16 Des jg resepsinya but akad nikahnya da 12 des..

Oho..ada yg kelupa my labmate, jeng Ratih yang manis da dapet kangmas en nikah 15 Des, sori buanguet ga bisa datang..maklum mbiyodho…he he…Jadi kangen sama Ratih yang olwes bareng pas TA dulu…siram2, bikin media, nyuci botol, he he…

Mbak Heksa….insya Allah 6 Januari nikah….sebuah wacana baru dalam pernikahan…may Allah always love U sist !

Aan nikah 20 Januari ma org jauh, Bengkulu…moga tambah dahsyat !

Isti, kabarnya jg mo nikah januari ini…

who’s next…?!?!?!

Tradisi Pengasuhan Anak

October 17th, 2007 by diarisy
Tradisi Pengasuhan Anak PDF Print E-mail
Friday, 02 September 2005
Pemateri: Ustadzah Sepriati Segeruo

Ada 3 Macam Pola asuh yang selama ini digunakan dalam masyarakat yakni Pola Asuh Koersif, Pola Asuh Permisif dan Pola Asuh dialogis. Pola -pola Asuh ini tidak pernah lepas dari konteks sosial suatu masyarakat. Dan bahkan tingkah laku anak hanya dapat dipahami dengan konteks sosialnya. Ketiga bentuk pola asuh ini datang silih berganti, sejarahnya sudah 8000 tahun. Kadang-kadang koersif lebih dominan, lalu menyusul permisif kemudian datanglah dialogis untuk mengembalikan manusia ke jalan para nabi dan Rasul.
Pola Asuh Koersif berasal dari satu fase masyarakat otokratis. Suatu masyarakat yang meyakini bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengatur perilaku kelompok lain( yang inverior) karena merasa memiliki superioritas .

Sebagian besar kita para orang tua mewarisi pola Asuh yang kita dapatkan secara turun temurun dari orang tua kita.

Lalu sering kali timbul dalam benak kita, dulu orang tua kita menggunakan pola Asuh koersif dan ternyata mereka berhasil menghantarkan kita seperti apa yang kita rasakan saat ini. Namun pada saat kita mencoba menerapkan persis apa yang telah orang tua kita polakan kepada kita kenapa yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan ?

Ternyata penyebabnya adalah karena telah terjadi pergeseran nilai tatanan dalam masyarakat tempat anak-anak kita dibesarkan yang ternyata jauh berbeda dengan masyarakat tempat dahulu kita dan orang tua kita dibesarkan.

Dahulu masyarakat berada pada fase otokrasi sedang sekarang sudah cenderung kepada fase permisif, sehingga banyak orang tua dibuat tak berdaya oleh anak-anak mereka yang beberapa tahun lalu masih nunut saja dengan keinginan mereka, sekarang sudah mahir untuk membrontak dan lebih-lebih lagi mereka dilindungi oleh undang-undang.

1. Pola Asuh Koersif : tertib tanpa kebebasan

Pola Asuh koersif hanya mengenal Hukuman dan Pujian dalam berinteraksi dengan anak. Pujian akan diberikan mana kala anak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua.

Akibat penerapan pola asuh koersif ini akan muncul empat tujuan anak berperilaku negatif yakni :

Mencari perhatian, Unjuk kekuasaan, Pembalasan dan Penarikan diri.

Ketika seorang anak dipaksa untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan orang tua dan dengan cara yang dikehendaki olah orang tua maka anak akan kembali menuntut orang tuanya untuk memberikan perhatian atau pujian kepadanya. Sebaliknya jika anak tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya maka dia akan merasa hidupnya tidak berharga maka dia akan menarik dirinya dari kehidupan.

Pada saat orang tua menghukum anak karena anak tidak mematuhi keinginannya maka anak akan belajar untuk mencari kekuasaan karena dia merasakan bahwa karena dia tidak memiliki kekuasaanlah dia jadi terhina, jika dia tidak mendapatkan kekuasaan tersebut maka dia akan menanti-nanti saat yang tepat baginya untuk membalasi semua perilaku tak enak yang dia terima selama ini.

Orang tua yang koersif beranggapan bahwa mereka dapat merubah perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka anut dengan cara mencongkel perilaku itu lalu menggantikannya dengan perilaku yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan perasaan anaknya.

2. Pola Asuh Permisif : bebas tanpa ketertiban.

Pola asuh ini muncul karena adanya kesenjangan atas pola asuh. Orang tua merasa bahwa pola asuh koersif tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia, sebagai pengambil keputusan yang aktif, penuh arti dan berorientasi pada tujuan dan memiliki derajat kebebasan untuk menentukan perilakunya sendiri. Namun disisi lain orang tua tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap putra putir mereka, sehingga mereka menyerahkan begitu saja pengasuhan anak-anak mereka kepada masyarakat dan media masa yang ada. Sambil berharap suatu saat akan terjadi keajaiban yang datang untuk menyulap anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi yang soleh dan sholehah.

Di satu sisi orang tua tidak tahu apa yang baik untuk anaknya, disisi yang lain anak menafsirkan ketidak berdayaan orang tua mereka dengan "orang tua tidak punya pengharapan terhadap mereka."

Akibatnya anak akan terjebak kepada gaya hidup yang serba boleh persis tepat dan sesuai dengan pola yang berlaku pada masyarakat tempat dia dibesarkan saat ini. Di satu sisi orang tua akan selalu menanggung semua akibat perilaku anaknya tanpa mereka sendiri menyadari hal ini.

3. Pola Asuh Dialogis: tertib dengan kebebasan.

Pola Asuh ini datang sebagai jawaban atas ketiadaannya pola asuh yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia . Dia merupakan pola asuh yang diwajibkan oleh Allah swt terhadap para utusannya. Berpijak kepada dorongan dan konsekuensi dalam membangun dan memelihara fitrah anak. orang tua menyadari bahwa anak adalah amanah Allah swt pada mereka dia merupakan makhluk yang aktif dan dinamis. Aktivitas mereka bertujuan agar mereka dapat diakui keberadaannya, diterima kontribusinya dan dicintai dan dimiliki oleh keluarganya.

Dalam memperbaiki kesalahan, anak orang tua menyadari bahwa kesalah itu muncul karena mereka belum trampil dalam melakukan kebaikan, sehingga mereka akan mencoba untuk membangun ketrampilan tersebut dengan berpijak kepada kelebihan yang anak miliki, lalu mencoba untuk memperkecil hambatan yang mebuat anak berkecil hati untuk memulai kegiatan yang akan menghantarkan mereka kepada kebaikan tersebut. Lalu juga orang tua akan berusaha menerima keadaan anak apa adanya tanpa membanding-bandingkan mereka dengan orang lain atau bahkan saudara kandung mereka sendiri, atau teman bermainnya.

Orang tua akan membiasakan diri berdialog dengan anak dalam menemani pertumbuhkembangan anak mereka. setiap kali ada persoalan anak dilatih untuk mencari akar persoalan, lalu diarahkan untuk ikut menyelesaikan secara bersama.

Dengan demikian anak akan merasakan bahwa hidupnya penuh arti sehingga dengan lapang dada dia akan merujuk kepada orang tuanya jika dia mempunyai persoalan dalam kehidupannya. Yang berarti pula orang tua dapat ikut bersama anak untuk mengantisipasi bahaya yang mengintai kehidupan anak-anak setiap saat.

Selain itu orang tua yang dialogis akan mebrusaha mengajak anak agar terbiasa menerima konsekuensi secara logis dalam setiap tindakannya. sehingga anak akan menghindari keburukan karena dia sendiri merasakan akibat perbuatan buruk itu, bukan karena desakan dari orang tuanya.

Sumber: Ringkasan Seminar Tarbiyatul Aulad, "Cara Mudah Mendidik Anak" oleh pengajian ibu-ibu Wollongong Australia.


Ringkasan oleh Umu Dini, Mira & Teddy.
Last Updated ( Sunday, 04 September 2005 )

Cara Orang Batak dan Tionghoa Mendidik Anak

October 17th, 2007 by diarisy

Cara Orang Batak dan Tionghoa Mendidik Anak

Bekerja dan bersekolah. Dua hal itu melekat pada masa kecil Jan S Aritonang.

Sejak duduk di kelas IV SD, Aritonang telah belajar mencari uang. Di depan rumah kakeknya di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, ia sering menggelar dagangan dari kebun kakeknya. Seminggu sekali, pukul 03.00 dini hari, ia ikut menjual hasil bumi ke pasar. Saat duduk di SMP, Aritonang pernah bekerja sebagai tukang sapu. Ia pernah bekerja pedagang asongan, kernet mobil angkutan, sampai penarik becak. Akan tetapi, satu hal tidak pernah ditinggalkannya: bersekolah.

”Meski pagi-pagi sekali harus berangkat ke pasar, apa pun saya harus cepat-cepat pulang supaya bisa bersekolah pada pukul 07.00. Sekalipun sejak kecil sudah dilepas cari makan sendiri, tetapi tetap harus bersekolah. Itu tak hanya berlaku pada diri saya, tapi juga bagi anak-anak Batak lainnya,” kata Aritonang yang kini menjabat sebagai Ketua Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Aritonang adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ibunya petani. Ayahnya pernah bergabung menjadi tentara, kemudian pindah menjadi pegawai pada Kementerian Penerangan, sebelum akhirnya berwiraswasta.

Ayahnya mendidiknya dengan keras. Bila ada angka merah di rapornya, bisa-bisa ia disetrap, tidak diberi makan atau dicambuk. Sebaliknya, bila memperoleh nilai bagus, tidak segan-segan ayahnya memberi hadiah baju baru, memotong ayam, atau sekadar mengajak jalan-jalan.

Batak merupakan salah satu etnis di Tanah Air yang sangat menjunjung tinggi nilai pendidikan anak. Anak, bagi orang Batak, merupakan harta yang paling berharga, kehormatan, sekaligus kekayaan bagi orangtuanya. Pemahaman ini yang mendorong warga etnis Batak mendidik dan berupaya agar anaknya bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin.

”Baik yang tinggal di kota maupun di kampung-kampung, orang Batak akan mengerahkan kemampuan finansialnya untuk pendidikan anak-anaknya,” kata Aritonang.

Pendidikan di rumah

Orang Batak juga berusaha menjaga keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan dalam keluarga. Melalui pendidikan keluarga itulah nilai- nilai kerja keras, pantang menyerah, dan keuletan ditanamkan. Nilai-nilai itu pula yang ditanamkan Aritonang dalam mendidik anak-anaknya.

Aritonang mengaku tak mengalami kesulitan mendidik anak-anaknya. Ketika ketiga anaknya masih kecil, mereka tanpa disuruh belajar sendiri, juga tanpa harus didampingi. Sesekali saja ia turun tangan ketika anaknya mengalami kesulitan. Ketika nilainya kurang bagus ia membimbing bagaimana bisa lebih sistematis dalam belajar.

”Meski tidak harus mendampingi, saya tidak pernah tidak peduli terhadap pendidikan anak-anak saya,” kata Aritonang.

Dalam mendidik anak-anaknya, ia mengaku tak pernah menggunakan kekerasan. Ia juga tak memaksakan anaknya kelak akan menjadi apa. ”Yang dibutuhkan anak adalah perhatian, bukan pengendalian yang ketat, apalagi pemaksaan,” ujarnya.

Cara itu terbukti cukup berhasil. Ketiga anaknya masuk di universitas negeri yang terbaik. Anak bungsunya kini mengambil kuliah di Institut Teknologi Bandung. Anak keduanya, menyelesaikan program studi S2 dalam usia 23 tahun dengan indeks prestasi 3,92.

Tidak ada yang gratis

Seperti halnya tradisi dalam keluarga Tionghoa, Sofyan Tan —tokoh masyarakat Tionghoa di Medan—mendidik anak-anaknya, khususnya anak pertamanya, dengan keras. Anak-anaknya diharuskan membuat target juara dan bila target itu tercapai mereka diberi hadiah.

Sofyan tidak memberikan uang jajan kepada anak-anaknya secara cuma-cuma. Uang jajan hanya diberikan sebagai kompensasi nilai ujian yang bagus. Untuk tiap nilai yang bagus memperoleh Rp 5.000. Khusus untuk nilai matematika dan sains yang bagus memperoleh Rp 20.000. Demikian pula bila anaknya ingin memiliki telepon genggam atau play station. Barang-barang itu hanya bisa dimiliki sebagai hadiah bila target juara kelas tercapai.

”Biar ada motivasi bahwa untuk mencapai sesuatu harus pakai perjuangan. Dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang gratis,” kata Sofyan.

Di tengah kesibukannya, Sofyan sebisa mungkin mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Dalam perjalanan itu Sofyan punya kesempatan berbincang-bincang santai dengan keempat anaknya. Secara intensif Sofyan berkomunikasi dengan anak-anaknya, baik melalui telepon atau pesan elektronik singkat. Istrinya sehari-hari mendampingi anak-anak di rumah. Untuk mengakrabkan hubungan dengan anak-anaknya, pada akhir pekan ia selalu mengajak keluarganya makan bersama di luar. Di sinilah ia bisa efektif mengobrol santai dengan anak.

Dari Senin sampai Jumat, anak-anaknya tidak bermain di luar. Sama seperti kebanyakan anak-anak dari keluarga keturunan Tionghoa lainnya, keempat anak Sofyan mengikuti berbagai macam les: dari kesenian, bahasa asing, sampai matematika. Sofyan mengaku tidak membuat jadwal ketat jam berapa anak-anaknya harus belajar karena mereka bisa mengatur diri mereka sendiri. Hanya anaknya yang paling kecil saja, Davin (9), yang masih diawasi.

Putri pertamanya, Tracy (18), baru-baru ini berangkat ke Inggris untuk mengambil persiapan masuk ke universitas. Rencananya ia akan mengambil Bidang Studi Matematika di Universitas Cambridge. Putri keduanya, Cindy, yang mempunyai bakat melukis ingin mendalami desain grafis. Felix (14), anaknya ketiga, ingin meneruskan jejak ayahnya menjadi dokter.

Pengaruh orangtua

”Tidak ada faktor tunggal yang memengaruhi keberhasilan dan etos kerja seorang anak,” kata Dr Eri Seda, sosiolog dari Universitas Indonesia.

Akan tetapi, menurut Eri, keberhasilan, etos kerja, dan semangat belajar seorang anak sangat bergantung pada kultur dan keteladanan orangtua. ”Orangtua boleh omong macam-macam namun yang dilihat anak adalah tingkah lakunya. Bila orangtua bekerja keras dari pagi sampai malam, tanpa harus memberikan wejangan sekalipun, anak akan meniru kerja keras. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya,” kata Eri Seda.

Menurut Ketua Program Pascasarjana Sosiologi UI itu, disiplin, etos kerja, keuletan merupakan nilai-nilai yang bisa ditumbuhkan dalam keluarga. Sekolah hanya bisa melengkapinya. Karena itu, Eri menekankan pentingnya interaksi di dalam rumah tangga dijaga.

Sedekat apa pun hubungan seseorang, bila tidak dijaga dengan kegiatan bersama dan tidak ada komitmen satu sama lain maka interaksi antaranggota keluarga bisa berjauhan. Interaksi kurang baik dalam keluarga menimbulkan berbagai persoalan sosial, seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, perselingkuhan, sampai masalah pendidikan anak.

Akan tetapi, tambahnya, meski keluarga dan sekolah telah mendidik anak dengan baik, tetapi masyarakat hanya menghargai yang serba instan, anak tidak akan tahan melawan arus.

”Kalau yang dipentingkan dalam masyarakat hanya yang glamor, asal keren, yang dihargai hanya selebriti, asal kaya tanpa peduli dari mana kekayaannya, maka anak tidak akan melihat pentingnya kerja keras dan berjuang. Yang penting lulus, nilai baik atau tidak bukan soal. Itulah mengapa kini banyak anak bersikap minimalis,” kata Eri.

DOA

October 17th, 2007 by diarisy

by Chairil Anwar
(Kepada pemeluk teguh)

Tuhanku
di dalam termangu
aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
menyebut-Mu penuh seluruh

Cahya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara ke negeri asing

Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling

Ir H Tifatul Sembiring: Yaa Allah, Jauhkan Kami Dari Segala Musibah

October 17th, 2007 by diarisy

Khotbah Idul Fitri 1428 H
Sesungguhnya ada korelasi, hubungan yang kuat antara musibah fisik dengan musibah moral atau akhlak manusia. Sering terjadi bencana, sebab akhlak manusia yang telah rusak. Terlalu banyak berbuat maksiyat dan melawan kepada Allah swt. Banyak orang sekarang, yang hanya takut kepada manusia, tapi tidak takut kepada Allah swt. Mereka melampiaskan seluruh nafsu durjana dan ketamakan, serta berlaku sewenang-wenang dengan segala kekuatan yang mereka miliki.

PK-Sejahtera Online:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil Hamd.
Hadirin kaum muslimin dan muslimat rahima kumullah,
Hari ini takbir berkumandang di seluruh dunia, membesarkan nama Allah. Gema takbir yang disuarakan oleh lebih dari satu seperempat milyar manusia di muka bumi ini, menyeruak disetiap sudut. Di lapangan, di surau-surau, di desa-desa, di gunung-gunung, di kampung-kampung di seluruh pelosok negeri Islam.

Pekik suara itu juga kita bangkitkan disini, dibumi tempat kita bersujud. Iramanya memenuhi ruang antara langit dan bumi, disambut riuh rendah suara malaikat nan tengah khusyu’ dalam penghambaan diri mereka kepada Allah swt.

Getarkan qalbu mu’min, yang tengah dzikrullah, penuh mahabbah, penuh ridho, penuh roja’ –harap-harap cemas akan hari perjumpaan dengan Khaliq, Pencipta.

Takbir berkumandang di seluruh dunia:
Di Palestina, dimana Yahudi La’natulllah ‘alaihim tengah bersorak sorai setelah sukses menipu kaum muslimin. Sebanyak 400 pemuda Hamas yang berani mati di eksekusi, setelah peluru terakhir mereka habis ditembakkan. Masjidil Aqsha yang mereka injak-injak kehormatannya. Di tanah yang telah diwashiyatkan oleh Umar Ibn Khattab untuk dijaga, negeri yang telah ditebus oleh Sholahuddin Al-Ayyubi dengan darah para syuhada. Kini mereka mengadu domba antara Fatah dengan Hamas.

Di Afghanistan, keping-keping reruntuhan, seolah wilayah yang tak lagi bertuan. Puas memborbardir kawasan muslim ini, tentara Amerika pergi menghindar dan membiarkan penduduknya terlantar.

Takbir berkumandang di Bengkulu,
Adakah suara takbir masih terdengar di Bengkulu?
Adakah suara takbir masih berkumandang di Muko-muko?
Adakah suara takbir masih berkumandang di Lais, di Argo Makmur?

Puluhan ribu rumah hancur, ribuan masjid rubuh. 60 kali lebih frekwensi gempa terjadi mengguncang tanah. Meratakan lebih 26.000 bangunan dan rumah, 300 masjid pun tak bisa lagi digunakan lagi untuk beribadah. Marilah kita berlindung kepada Allah dari segala macam musibah. Ya Allah jauhkanlah kami dari segala macam musibah. Ya Allah jadikanlah negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamd
Hadhirin dan Hadhirat jama’ah sholat Ied yang dimuliakan Allah swt

Pada hari ini dengan berat hati, kita meninggalkan bulan suci Ramadhan nan penuh berkah. Dimana Allah swt pada hari-harinya telah mencurahkan rahmah, memberikan kucuran maghfirah-Nya serta membebaskan manusia dari siksaan api neraka. Mudah-mudahan segala perjuangan amal ibadah kita, ruku’ kita, sujud kita, shiyam kita, qiyam kita diterima oleh Allah swt. Mudah-mudahan segala radang demam karena begadang kita, keletihan dan cucuran air mata kita dalam menghiba agar mendapatkan rahmat Allah swt, didengar oleh yang Maha Pengasih.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Hadirin Jama’ah iedul Fithri yang berbahagia,

Sejak akhir tahun 2004 sampai sekarang, bencana dinegeri kita Indonesia tercinta ini, seolah tidak ada henti-hentinya terjadi. Mulai dari gempa di NAD dan Nias, Banjir bandang di Jember, dan Trenggalek, banjir bandang di Sinjai, Sulsel. Tanah longsor di Luwu Utara, Sulteng. Banjir di Bolaang Mongondow, Tanah Longsor di Gorontalo. Gempa DI Jogya, Gunung Merapi meletus, banjir besar di Jakarta, Tsunami di Pangandaran dan Kebumen, Gunung meletus di Halsel, gempa di Sumatera Barat.

Hadirin Jama’ah iedul Fithri yang berbahagia,
Sesungguhnya ada korelasi, hubungan yang kuat antara musibah fisik dengan musibah moral atau akhlak manusia. Sering terjadi bencana, sebab akhlak manusia yang telah rusak. Terlalu banyak berbuat maksiyat dan melawan kepada Allah swt. Banyak orang sekarang, yang hanya takut kepada manusia, tapi tidak takut kepada Allah swt. Mereka melampiaskan seluruh nafsu durjana dan ketamakan, serta berlaku sewenang-wenang dengan segala kekuatan yang mereka miliki.

”Kalaulah sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, sungguh Kami akan bukakan atas mereka Keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakannya, maka kami siksa mereka dengan kedustaan itu”. QS 7:96

Ayat Allah yang tidak bisa kita bantah sama sekali. Jadi jelas sekali keterangan Allah swt dalam Al-Qur’an, jika manusia itu Iman dan taqwa maka keberkahan melimpah banyak.Tapi kalau ingkar dan maksiyat, maka Allah swt akan datang adzab dan musibah.
Tengoklah bagaimana kerusakan moral di negeri ini.

Baru-baru ini diungkapkan data, bahwa ada 500 jenis VCD porno buatan Indonesia sendiri yang sudah beredar diperjual belikan. Dan yang paling mengerikan adalah bahwa bintangnya anak-anak yang masih di SMP dan SMU.Masih sanggupkah kita menghadapkan muka kita di hadapan Allah di Padang Mahsyar besok? Sanggupkah kita menjawab pertanyaan Allah kelak? Bagaimana tanggung jawab kita terhadap pendidikan anak-anak kita?

Jual beli perkara, bahkan di MA. Apalagi di PT atau PN. Perzinahan, bahkan dilakukan oleh salah seorang anggota DPR dengan seorang penyanyi dangdut, dan divideokan pula, seolah ingin “show of force”. Seorang ibu membunuh 3 orang anaknya di Bandung, lantaran takut miskin. Seorang anak remaja membantai seluruh keluarganya, termasuk ayah ibunya di Medan. Ketika diajukan di DPR soal RUU APP, malah ditolak. Inilah bentuk kerusakan akhlak dan moral manusia di negeri ini. Bagaimana adzab tidak datang secara bertubi-tubi. Penyebabnya adalah ulah tangan manusia itu senidiri:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
QS.30:41

Oleh sebab itu hadirin dan hadirat rahimakumullah, marilah kita bertaubat kepada Allah swt. Marilah kita kembali ke jalan yang benar. Jangan lagi karena ulah-ulah kita, Allah menjadi murka.

”Mendekatlah kepada Allah, dan berlaku luruslah, maka ketahuilah seseorang itu tidak akan masuk syurga, hanya dengan amal-amalnya saja. Shahabat bertanya,”Engkau juga tidak ya Rasulullah?”. Jawab Rasul saw, ”Tidak juga saya, kecuali Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya”.

Sungguh Allah swt adalah penerima taubat. Sebesar gunung dosa kita, lalu kita datang sungguh-sungguh ingin bertaubat, maka engkau dapati Allah swt, Maha Pengampun. Kalau kita mendekat sejengkal kepada Allah, maka Allah swt akan mendekat sehasta. Jika kita mendekat kepada Allah swt sehasta, maka Allah akan mendekat sedepa. Dan jika kita berjalan menuju Allah swt, maka Allah akan berlari menyambut uluran taubat kita.

”Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah swt”.

Mudah-mudahan latihan sebulan penuh Ramadhan, dapat menjadikan jiwa kita benar-benar taqwa. Dan dengan bekal ini mudah-mudahan Allah swt memasukkan kita ke dalam syurga, an-nai’m. Kegembiraan kita di hari lebaran ini, hendaknya pula tidak mengurangi kepedulian terhadap kaum muslimin saudara-saudara kita yang tengah menderita dibelahan dunia lain. Baik yang berada di Iraq, di Palestina, di Afghanistan.

Adakah kebahagiaan yang kita rasakan hari ini, juga dirasakan oleh mereka? di Bengkulu, di Muko-Muko, di Lais, di Argo Makmur, di Sumatera Barat, di Jambi dan lainnya.Adakah mereka sanggup kenakan baju baru, celana baru dan sepatu baru? Seperti yang dipunyai anak-anak kita? Adakah mungkin saudara-saudara muslim kita di Bengkulu dapat mencicipi hidangan selezat yang telah kita tata di meja-meja makan kita?

Kenang, kenang, kenanglah mereka ! Sumbanglah mereka, agar mereka merasa masih punya saudara. Bantu mereka, do’akan agar Allah memberikan keberkahan atas mereka. Sekedar meringankan beban, dan saling berbagi kebahagiaan.

”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”.
QS. Ar-Rahman:60

Pengirim: Mohammad Yusuf
Update: 14/10/2007 Oleh: Mohammad Yusuf

SEKALI SHAUM TETAP SHAUM

October 17th, 2007 by diarisy


DR Surahman Hidayat:
Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

PK-Sejahtera Online: Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin, jama’ah shalat ‘ied rahimakumullah
Dengan mengagungkan asma Allah, marilah kita bertahmid, memuji serta bersyukur kehadirat-Nya. Karena atas taufiq-Nyalah kita telah dapat menuntaskan shiyamu ramadhan sebulan penuh, menyelesaikan qiyamu ramadhan tanpa bolong, merampungkan khatmul quran sekali atau lebih, menunaikan zakatul fithri dan zakatul mal dengan baik, serta mendukungnya dengan shadaqah dan shilaturahim kepada orang tua, guru, saudara, tetangga dan handai taulan.

Pada hari nan fithri ini Allah kembali mengkaruniakan kepada kita hari yang teramat istimewa, yaumul ‘id hari raya dan bersuka cita, yamul fithri hari kembali secara total pada kesucian fithrah, yaumul jaizah hari pembagian pahala dan piala kepada para alumnus pendidikan ramadhan. Semoga pada hari kemenangan ini kita mendapatkan yang terbaik (al afdhal) dari semua yang Allah sediakan bagi para shaimin wal shaimat, sehingga kita menikmati suasana ‘iedul fithri dengan penuh rasa syukur.

“Dan hendaklah kamu sekalian menyempurnakan bilangan shiyam sebulan penuh, dan mengagungkan asma Allah sesuai dengan petunjukNya, mudah-mudahan kamu sekalian bersyukur”.
(QS2 al Baqarah: 184)

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Adapun akhlaqiyah atau moralitas ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan paling tidak ada lima:
1.Al shidqu yakni kejujuran.
Kejujuran merupakan bukti paling niscaya bahwa seseorang dalam suasana taqwa. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة :119)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan pastikanlah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur”

Kejujuran adalah gerbang menuju segala kebaikan, sedangkan ketidakjujuran akan membawa kepada pelbagai penyimpangan dan kejahatan. Orang harus berlatih untuk jujur, sekali dua kali tiga kali dan seterusnya, sehingga ia dicatat oleh Allah sebagai pribadi yang jujur (AL SHIDDIEQ). Kemudian telah ada jaminan dari Allah, bahwa orang jujur akan mujur, sedang yang tidak jujur cepat atau lambat akan hancur. Bukti empirik telah begitu banyak membenarkan korelasi ini.

2. Al Tathahhur yakni membersihkan diri
Ramadhan memang bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do’anya dikabulkan. Kemudian bersama ‘idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.

3. Al Ijabiyah, bersikap positif
Sikap positif menuntut kita untuk selektif dalam memilih lingkungan, dalam mengambil langkah, kegiatan dan mata pencaharian. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa sebagai alumnus pendidikan ramadhan, kita tidak melakukan kecuali pekerjaan yang baik, maslahat bagi kehidupan dan tanpa melanggar syari’ah. Sebab puasa yang benar menuntun dan menuntut kita untuk menjauhi “allaghwi wal rafatsi” yakni perkara yang sia-sia dan perkataan yang tidak pantas

4. Al Mujahadah, membanting tulang
Dalam keadaan lapar dan dahaga shiyamu ramadhan memacu insan beriman untuk lebih giat lagi melakukan aktifitas taqarrub ilallah seperti shalat, tilawatil quran dan kegiatan yang bemanfaat bagi kehidupan social.
Wajarlah sejarah mencatat di antara hasil mujahadah ramadhan berupa kemenangan gemilang di perang badar pada tahun ke-2 Hijriyah, pembebasan Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-6 Hijriyah, dan kemenangan perang Amoria yang meluluhlantahkan pasukan Romawi di Byzantium pada tahun 214 H pada masa Al Mu’tashim Billah. Memang semangat ramadhan adalah semangat juang untuk meraih pelbagai kemenangan.

5. Mempertahankan surplus spiritual (Al faidhu wal insyirah)
Shiyamu ramadhan mendidik surplus spiritual dan moral, menjaga diri agar tidak terjebak pada kekerdilan jiwa dan kenihilan moral. Mendidik para shaimin untuk mengokohkan jiwanya serta melapangkan dadanya. Dengan menegaskan pada dirinya “inni shaimun” aku ini sedang puasa, ia mampu menggagalkan setiap provokasi negatif yang akan merusak hubungan sosial menjadi konflik yang menghancurkan semua pihak.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Demikianlah dengan mempertahankan jiwa shiyamu ramadhan serta moralitasnya, maka kehidupan kita pasca ramdhan selama 11 bulan akan tetap disinari dengan cahaya ramadhan, sehingga kerahmatan Allah dan maghfirahnya akan senantiasa diberikan kepada siapa saja yang mampu mempertahankannya. Curahan berkah dari langit selama bulan ramadhan akan berlanjut manakala kita memenuhi faktor-faktor yang menghadirkannya.

Suatu tingkatan ketaqwaan yang telah kita raih harus kita pertahankan, jangan sampai mengalami degradasi apalagi peluruhan dan peluluhan. Karena hanya dengan ketaqwaanlah kita dapat menggapai kebahagiaan (al falah) yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah dalam banyak ayat:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah supaya kamu sekalian mendapat kemenangan/kebahagiaan” (QS 2/189, 3/130, 200)

Pengirim: Mohammad Yusuf
Update: 14/10/2007 Oleh: Mohammad Yusuf

Belajar dari MAtahari

October 17th, 2007 by diarisy

Matahari kita kenal sebagai sumber energi di bumi. Dengan energi matahari, tumbuhan hujau dapat melakukan fotosintesis yang kemudian hasilnya berupa oksigen dimanfaatkan makhluk lainnya sebagai sumber energi pula, begitu seterusnya kita kenal dalam jarring-jaring makanan.Panasnya cahaya matahari di waktu terik kita rasakan begitu menyengat sampai membuat haus dan lemas. Namun cahaya matahari yang lembut di pagi hari mengandung vitamin D yang dapat menyehatkan kulit.

Begitu dahsyatnya manfaat matahari kita rasakan. Sampai-sampai ibu-ibu yang menjemur pakain terkadang mengumpat apabila sinar matahari tak muncul. Takut kalau-kalau pakaian atau apapun yang mereka jemur tak bisa kering karena tak ada sinar matahari.

Dalam sudut pandang manusia, panas matahari begitu menakutkan. Dalam jarak 152 juta km bumi dari matahari saat ini saja banyak manusia yang masih mengeluhkan teriknya matahari di tengah hari. Pada jarak berjuta kilometer dari bumi saja, panas matahari mampu membuat manusia mengalami dehidrasi atau membuat kulit manusia menghitam atau sedikit gosong. Lalu, pernahkah terbayang jika jarak manusia hanya beberapa jengkal dari ubun-ubun manusia….? Apa yang akan terjadi dengan manusia di waktu itu, barangkali kulitnya tak sekedar gosong, mungkin kulit manusia di waktu itu sudah super duper gosong sekali, lalu terkelupas dari tulang belulangnya….Wallahu’alam bish showwab. Semoga kelak Allah swt memberikan perlindunganNYA kepada kita di saat tak ada perlindungan lain selain perlindunganNya.

Matahari yang terkesan angker itu ternyata ‘hanyalah’ sebuah bintang yang relative kecil dibandingkan dengan bintang-bintang raksasa yang beredar di galaksi Bimasakti. Namun, andai dibandingkan dengan ukuran bumi, maka besar matahari adalah 1.303.600 kali besar bumi. Andaikan matahari dianggap setitik debu kecil saja di antara bintang-bintang di galaksi Bimasakti, maka apalah artinya Bumi ini. Sehingga dalam skala itu, Bumi yang ‘superdebu’ Cuma bisa dilihat lewat mikroskop dengan perbesaran tinggi.

Andailah bumi di antara galaksi Bimasakti saja, hanyalah superdebu yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop, lalu dalam skala yang sama, bagaimana kedudukan manusia? Ternyata manusia hanyalah super-super-super-super- duper debu di antara galaksi Bimasakti yang luas ini yang barangkali hanya teramati dengan super-super-super-super duper mikroskop pula. Lebih-lebih lagi bila dibandingkan dengan alam semesta selenhkap-lengkapnya, tak terbatas pada galaksi Bimasakti yang kita huni ini. Apalagi bila dibandingkan dengan Dia, zat yang menciptakan dengan sempurna alam raya yang complicated ini. Allahu Akbar !!

Masih adakah alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri di dunia ini? Manusia hanyalah setitik super super super super duper debu yang sangat kecil dibandingkan alam semesta ciptaan Allah. Manusia, berasal dari tanah, ke mana-mana membawa kotoran dan akhirnya kembali ke tanah. Namun demikia, tugas berat sebagai khalifah di muka bumi terpanggul di pundak makhluk Allah bernama manusia ini. Kiranya tak pernah salah Allah menetapkan sesuatu, termasuk menetapkan manusia sebagai khlaifah di muka bumi, meskipun manusia hanyalah ‘setitik debu’ di antara alam semesta raya ciptaanNYA dan dengan segala keterbatasannya.

Dengan mengingat perannya sebagai khalifah dan menyadari kekerdilannya, manusia akan rendah hati dalam mengatur segala urusannya. Sebagai khalifah yang sadar akan kekerdilannya, manusia akan menyadari bahwa ia tak boleh menginjak hak makhluk yang lebih lemah, ia harus melindungi dan mengangkatnya ke tempat yang lebih layak. Ia akan menghargai setiap bentuk kehidupan, apa pun itu. Karena Allah tak pernah melakukan sesuatu dengan sia-sia. Manusia yang menyadari kekerdilannya akan merasa sama saja dengan makhluk yang lain, sebagai sesama ciptaan Allah ia akan selalu menghargai setiap bentuk kehidupan dengan jiwa kepemimpinan yang disandangnya sebagai khalifah. Jadi tak ada lagi penindasan dalam bentuk apa pun di muka bumi, karena penghargaan yang tinggi pada setiap bentuk kehidupan.

Rasulullah bersabda : ‘Perumpamaan dunia dengan akhirat adalah kalian mencelupkan jari kalian ke laut kemudian diangkat, lihatlah dunia hanya air yang ada di jari tersebut’ . Betapa kecilnya nikmat dunia apabila dibandingkan dengan nikmat akhirat yang kekal. Maka, manusia yang ibarat debu di antara alam semesta dihadapkan pada kehidupan dunia yang hanya setetes air di ujung jari dibanding dengan kenikmatan akhirat yang ibarat samudera. Sedang manusia diberi tugas menjadi khalifah di muka bumi. Maka, nikmat dunia yang sangat kecil dibanding nikmat akhirat adalah tantangan yang harus dihadapi setiap manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Apakah manusia akan menggunakan kekuasannya sebagai khalifah untuk meraup segala kenikmatan dunia yang ternyata kecil itu. Ataukah dengan kekuasaannya manusia dapat mengendalikan keingnannya untuk menguasai nikmat dunia guna mendapatkan nikmat akhirat yang tiada bandingannya.

Ya, kiranya matahari telah memberikan pelajaran berarti bagi manusia. Meski sang mentari termasuk bintang kecil di antara bintang-bintang raksasa di Bimasakti, namun ia tetap dahsyat memancarkan sinarnya, membagi menjadi sumber energi bagi kehidupan di bumi. Pun dengan manusia, meski harus menyadari kekerdilannya namun tetap cemerlang menebarkan cahaya di muka bumi. Menerangi bumi dengan cahaya dakwah dan kasih sayang terhadap sesama.

Wallahu’alam bish showwab.


Maraji’: Tafakur di Galaksi Luhur

Ngeblog niyyy

October 17th, 2007 by diarisy

My first postingan…Belum nyiapin apa-apa siyy…Wait 4 me …..Hari gini..baru ngeblog !! Jarno ae ….He he…